Postingan

K E P E R C A Y A A N

Gambar
semenjak saya tk, saya selalu punya komplotan, dan saya selalu menjadi bosnya. urusan berantem dengan cowo pun saya ladeni, karena mengganggu teman sekomplotan saya sampai kita semua menginjak sd. saat kelas 5 sd, saya terlambat menyadari, teman sekomplotan saya ternyata memanfaatkan saya sebagai tamengnya. hal ini saya dengar dari pemerhati, dan ketika dibuktikan memang benar adanya. semenjak saat itu saya tetap bersahabat dengan mereka, namun ketika saya tidak membela, mereka meninggalkan saya satu per satu. begitu masuk smp, saya memasuki lingkungan baru. semua teman yang dulu sekomplotan masuk ke smp negeri, sedang saya swasta. tidak apa, ambil hikmah saja. dan saya kembali mempunyai komplotan di smp, dengan hal yang sama, mereka ingin saya menjadi tamengnya dan orang sekunder. saya terima, saya tetap bahagia dengan mereka, namun memilih mundur dan mendekati guru, insting saya saat itu, jika saya tidak mendapat kebahagiaan sejati dengan teman, saya akan mencari kebahagi...

2.1

"bagaimana bisa kita bertemu?" Seekor kupu-kupu terbang seperti kelopak bunga dan mengguncang segalanya. Aku membacakan halaman demi halaman buku yang pernah kau baca dengan lantang. Aku duduk di kursi yang kau duduki untuk merasakan suhu punggungmu. Aku memejamkan mata, bahkan aku pernah menyentuh ujung cangkirmu dengan ujung jariku. "bagaimana bisa kita menghabiskan begitu banyak waktu bersama?" "apa kita saling memberikan cinta untuk mendapatkan cinta?" Cinta yang ajaib namun tragis. Aku tidak ingin menjadi sebuah kebetulan bahwa aku bisa berdiri tepat di hadapanmu. Itu sebabnya yang bisa kulakukan hanya melakukan yang terbaik. Saat ini, aku tengah menjalani keadaan dimana, aku memberikan seluruh cintaku padamu.                              [19.08 WIB - 하백의 신부]

IKHLAS TANPA TAPI

secarik sampah dimalam kelabu, so. --------- PART 1 --------- Malam itu termasuk malam yang panjang bagiku. Angin yang berhembus mesra membekukan otak yang sedari tadi menunggu. Rasa penat berkepanjangan kemarin sore menggerogoti setiap inci tubuhku. Alunan musik yang sendu mendayu-dayu menanti demi satu hal yang tak ku peduli, dia. Kata-kata yang sedari tadi ada di kepala tidak serta merta keluar dari lidah kakuku. Bibir-bibir beku diantara malam syahdu membuatku ingin beranjak, tapi tak bisa ketika aku menatap tepat kedua bola mata indah itu. Kita adalah sisa-sisa keikhlasan yang tak di ikhlaskan, katanya dalam secarik kertas. --------- “Sudah kuduga, Ana. Jika dia memperhatikanku setiap harinya,..” “Bukan berarti dia menaruh hati padamu, dear ” Kring… Krincing… Kring… Gemerincing lonceng andong membawaku dan teman sepermainanku menuju ke tempat tujuanku. Tanganku membawa tas besar berisi perlengkapan hidupku. Setiap saat, ku menatap layar ponselku berharap ada y...